Sabtu, 19 Desember 2015

Arti dari larangan seorang Ayah

Baru saya sadari betapa besar kasih sayang dan cinta dari seorang ayah saat saya sudah kehilangannya... Padahal, tak dipungkiri bahwa selama kami tinggal bersama saya banyak berbeda pendapat dengannya. Mulai dari larangan dekat dengan teman laki-laki, pulang tidak boleh terlalu malam, setiap ijin keluar harus jelas tujuannya dan dengan siapa saja. Saat itu, pikiranku hanyalah tidak suka dengan semua larangannya..

Beranjak dewasa, semakin aku bisa memahami apa arti semua itu... Seorang ayah hanya tidak mau anak perempuannya didekati oleh laki-laki sembarangan. Seorang ayah hanya kuatir jika terjadi sesuatu dengan anaknya jika pulang terlalu malam. Seorang ayah hanya tidak ingin anak perempuannya menjalani pergaulan bebas...

Semua saya sadari, saat Ayah sudah tiada dan itu semua sudah terlambat...

Untukmu kawanku, jika ayah kalian masih hidup... hargailah apapun larangannya meski kamu tak suka... turutilah keinginannya meskipun dengan terpaksa...

Seorang ayah hanya ingin melakukan terbaik untuk anak perempuannya.. Maafkanlah Ia jika banyak melarang, Ia hanya tak bisa mengungkapkan rasa sayangnya dengan baik. Ia hanya bisa melarangmu untuk tidak mendekati hal-hal yang akan melukaimu....

Senin, 30 November 2015

Oriflame

Welcome December

Ada penawaran terbaik di bulan ini..



Gabung jadi member hanya Rp. 24.900

Gak perlu modal ratusan ribu atau jutaan rupiah...

Yang pasti bisnis ini bukan bisnis musiman, yang hanya tenar sebulan dua bulan lalu hilang...

Oriflame akan terus bertahan~


Klik link berikut untuk penawaran terbaik Anda Oriflame

Selasa, 15 September 2015

Susah yaa nyari kerjaa???

Sebelum kerja jadi Recruitment Officer, saya juga mengalami rasanya nyari kerja itu susah. Sampai-sampai saya sempat sebal dengan para HRD yang interview saya. Ada yang PHP, judes, kepo, sok tau, dll...

Let's start, saya wisuda Oktober 2013. Saat itu adalah saat-saat termalas dan terlengah saya. Karena saya terlalu meremehkan namanya cari kerja. Saya pikir, saya anak Psikologi, pasti gampanglah nyari kerja, dimana-mana juga bisa, jadi saya nyantai ajaa.. Adil dong, 6 bulan saya sudah mengoyo ngerjain skripsi, tidur pagi, bangun siang, telat makan, suka lembur, sering ke kampus tapi gak ada dosen, rajin ke perpus sampai-sampai satpamnya apal sama saya... Sekarang udah lulus, bolehlah yaa leyeh-leyeh di rumah..

1 bulan setelah kelulusan, saya sudah mulai jenuh nganggur di rumah gak ada kerjaan. Jadi, saya mulai kuatir dan mulai greget untuk nyari kerja.... Okelah, saya ngirim lamaran kesana kemari.. Kebanyakan saya ngirim lamaran lewat job portal online gitu deh, sama kirim via email, trus ikutan job fair kesana kemari, sampe apal perusahaannya yang ikut ya itu-itu ajaaa -_-

Sebulan, dua bulan... Saya sedih banget, ditanyain orang-orang udah kerja belum? kerja dimana? kegiatannya apa kok main-main aja?? ... hiks banget kan di hati? Padahal mereka gak tau saya sudah berjuang untuk nyari kerjaa... Saya juga capek ditanya-tanyain gitu, terus saya mulai deh ritual, yess, setiap saya galau, sedih pasti saya ngelakuin ritual... judul ritualnya is self talk... Yaps! Self talk is ngomong dewe.. saya tanya sama diri saya sendiri, saya juga jawab-jawab sendiri.. jadi saya itu sering bayangin kalo diri saya ada dua.. Waktu itu saya tanya, kenapa kok gak dapet-dapet kerja?? tiap dipanggil perusahaan selalu lolos psikotes, tapi pas tahap interview kenapa selalu gagal? dan kenapa perusahaan yang manggil saya selalu perusahaan yang biasa-biasa aja? lama berpikir akhirnya saya nemu jawabannya..


  1. Karena saya terlalu berekspektasi untuk bekerja di perusahaan besar, tanpa saya sadari bahwa saingan yang di atas saya juga lebih banyak.. Itulah alasannya kenapa saya belum pernah sekalipun lolos administrasi di perusahaan besar. Saya seorang fresh graduate, yang gak pernah ikut organisasi dan pasti kalah dengan seorang pelamar yang punya pengalaman kerja...
  2. Karena saya terlalu menyepelekan perusahaan biasa saja yang mengundang saya untuk interview kerja dan menjawab pertanyaan HRD dengan seenak saya.. Yah, mungkin HRDnya sebel sama jawaban saya yang gak serius. Makanya saya gak dilolosin interview...
Dari pengalaman itulah saya langsung bertaubat. Yes, mulai saat itu saya gak pernah beda-bedain perusahaan. Dimana ada lowongan, baik perusahaan besar atau berkembang dan pastinya sesuai dengan kualifikasi akan saya masukin lamaran..

Finally, saya dapat panggilan interview di salah satu perusahaan swasta di Pandaan. Kesempatan itu tidak saya sia-siakan lagi, saya searching tentang profil perusahaan itu, bergerak di bidang apa dan lain-lainnya. Karena kegigihan saya dan doa-doa dari orang-orang  terkasih maka diterimalah saya di perusahaan itu. 

Jadi apa hikmahnya???
  1. Tidak ada salahnya bekerja di perusahaan yang sedang berkembang. Toh dari sana, kamu akan dapet pengalaman lebih banyak dan bisa jadi bekal kamu kelak jika kamu ingin melamar di perusahaan besar. Kasarannya, jadi batu loncatan dulu lah yaa...
  2. Jangan buang kesempatan kamu jika sudah dipanggil untuk interview. Interview adalah ajang kamu untuk "menjual diri". Tunjukkan ke HRD kalo kamu adalah orang yang serius bekerja, motivasi tinggi, bla bla blaaa
  3. Kalo sudah diterima kerja, JANGAN BANDING-BANDINGKAN GAJIMU DENGAN GAJI TEMANMU kecuali kamu orang yang tegar. Setiap perusahaan, setiap pekerjaan selalu mempunyai standar gaji berbeda.. Sawang sinawang lah yaaa.. kamu ngliat temenmu enak banget kerja disana, gajinya gede, gak ngapa-ngapain.. Haloooooooooooo, tau gak sih kamu kalo ternyata temenmu harus mencapai target baru dapet gaji gede. Gimana kalo temenmu kerjanya sering pulang malem?? Gak pernah tau kan kamu? Makanya, bersyukurlah kamu dapet gaji berapapun aja. Dan yakinlah, gak akan selamanya gajimu kecil.. ^^

Tetap semangat yaa teman, semua berawal dari bawah.. Tapi, jangan bertahan terus dibawah, perlahan cobalah naik.. Karena rasanya pasti beda dengan seseorang yang kehidupannya langsung berada di atas..


Jumat, 04 September 2015

Benarkah Belajar Psikotes bisa Membantu Pelamar Diterima Kerja?

Sebagian orang terutama fresh graduate merasa takut jika akan menghadapi psikotes, takut ditolak, takut ketahuan kepribadian yang sebenarnya, dll. Sehingga, tidak sedikit dari mereka membeli buku atau browsing di internet tentang panduan cara mengerjakan psikotes dan belajar agar mendapatkan hasil yang bagus dengan harapan mereka bisa diterima kerja.

Perlu Anda ketahui, psikotes yang diberikan oleh HRD memang untuk mengetahui kepribadian Anda. Namun, hasilnya tidak digunakan untuk menghakimi Anda, akan tetapi digunakan HRD untuk mengetahui posisi yang tepat untuk Anda.

Pada dasarnya, psikotes adalah salah satu cara untuk mencari kandidat yang bakat dan minatnya sesuai dengan posisi yang dibutuhkan. Sebagai contoh, suatu perusahaan membutuhkan posisi untuk supervisor, maka kandidat yang dicari adalah yang memiliki sifat pemimpin, tegas dan adil. Tidak diterima bukan berarti kepribadian Anda buruk. Tetapi, kepribadian Anda tidak sesuai dengan posisi yang dibutuhkan.

Psikotes yang diberikan tiap-tiap perusahaan selalu berbeda dan beragam jenisnya. Namun, kebanyakan perusahaan selalu memberikan tes gambar, seperti menggambar pohon, rumah atau orang. Banyak pelamar kerja yang sudah mencari tahu info tentang cara menggambar yang baik dan bentuk gambar yang bagus dengan harapan bisa diterima kerja. Sehingga pada saat tes berlangsung, mereka melakukan manipulasi gambar karena bentuk yang digambar bukanlah berasal dari idenya sendiri, tetapi dari ide orang lain.

Tahukah Anda bahwa gambar yang dibuat-buat bisa diketahui oleh HRD? Ada banyak aspek yang dinilai pada suatu gambar, tidak hanya bagus jeleknya, tapi ada aspek lainnya. Sehingga jika Anda memanipulasi gambar, akan ketahuan HRD.

Bukankah diterima kerja yang sesuai dengan minat dan kepribadian kita jauh lebih baik daripada memaksakan diri untuk bekerja diposisi yang tidak kita sukai? Tidak masalah jika Anda memiliki mental yang kuat, namun apabila mental Anda lemah maka Anda akan merasa terus gelisah, cemas dan pekerjaan menjadi tidak beres.


Sebelum mengerjakan psikotes, cukup siapkan kondisi fisik dan psikis Anda. Datanglah 30 menit sebelum jadwal dimulai, dan kerjakan tes dengan rileks. Apapun hasilnya, percayalah bahwa itu yang terbaik untuk Anda.

Jumat, 14 Agustus 2015

Apa sebenarnya yang dipelajari Psikologi?

Sebagai seorang mahasiswi yang menempuh kuliah di jurusan Psikologi, saya paling bosen ditanyain sama orang-orang "Bisa baca pikiran orang dong, Mbak?". Halo, kita kuliah di Psikologi bukan kuliah perdukunan. Kita calon Psikolog bukan calon dukun. Jadi, kita sebagai mahasiswa Psikologi tidak bisa membaca pikiran orang-orang.

"Tapi kok kebanyakan Psikolog bisa tau sih mbak sama apa yang saya pikirkan?". Iya, bisa dong. Karena kita sebagai anak psikologi mempelajari gejala-gejala atau tanda-tanda perilaku seseorang. Banyak kok buku-buku atau artikel yang membahas tentang hal tersebut di luar sana. Jadi, meskipun kalian bukan dari jurusan Psikologi masih bisa mempelajari tentang perilaku seseorang.

"Kalo gitu kenapa mbaknya mahal-mahal kuliah Psikologi kalo banyak yang jualan buku tentang psikologi dan bisa dipelajari otodidak?" Karena psikologi gak hanya mempelajari perilaku seseorang aja, karena psikologi jika dipelajari lebih dalam akan lebih banyak pengetahuan yang kita dapat, dan kita juga bisa "mengobati" permasalahan diri sendiri dan orang lain.

"Kebanyakan orang bilang, orang yang kuliah di Psikologi adalah rawat jalan ya?" Emang benar. Saya juga kuliah di psikologi karena rawat jalan. Iya, kita ingin memperbaiki perilaku kita, pola pikir kita dan menjadi individu yang lebih baik dan bijaksana.

Jika Anda belajar Psikologi, maka Anda akan jauh lebih bijaksana. Karena Anda dituntut untuk memahami orang lain dan sebisa mungkin tidak menyalahkan orang tersebut, tapi justru bersama-sama mencari alasan yang menyebabkan orang tersebut melakukan kesalahan dan mencari solusinya.
Karena itulah, banyak yang bilang psikologi adalah ilmu pemahaman.


-Bersambung-




Surabaya, 14 Agustus 2015
Prastya Wahyu Putri, S.Psi